Istikomah Faizuz

PENYALAHGUNAAN OBAT TERLARANG

Posted by: mahkom01 on: Mei 13, 2010

Akhir-akhir ini kehidupan remaja terasa semangkin kompleks. masalah itu dapat datang dari dunianya sendiri, lingkungan, dan keluarga. Yang paling berpengaruh kehidupan lingkungannya, justru dinilai memiliki pengaruh yang sangat besar , karena dapat mempengaruhi jiwa dalam kehidupan remaja. Untuk menangulangi berbagai pengaruh buruk itu, pendidikan moral dan keimanan menjadi semakin penting karena dapat menjadi benteng dari pengaruh yang masuk dalam jiwa remaja.

Keluarga terutama orang tua, guru, dan tetangga  merupakan peran penting sebagai benteng kehidupan remaja. Kesadaran remaja tidak hanya di beri nasehat saja melainkan di beri contoh yang nyata. Orang tua nyuruh anaknya yang sedang nonton TV untuk belajar tetapi orang tuanya tidak beranjak dari depan TV maka anak akan merasa jengkel dan menyelinap keluar dari rumah dan mencari teman ngobrolnya.

Tanpa disadari lama-lama anak semangkin keenakan di dunia luar dan mencoba-coba barang yang haram. Semakin nyandu anak akan semakin berani demi memperoleh barang haram tersebut, biarpun resikonya berat. Yang pertama dilakukannya berbohong terhadap orang tua dan keluarga yang terdekat. Apabila perbuatan bohong sudah tidak dipedulikan lagi, maka anak semakin berbuat pencurian, perampokan dan pembunuhan. Kalau sudah terlanjur begini orang tua baru merasakan kekecewaanya.

PUISI SMP ANDALAN

Posted by: mahkom01 on: Mei 7, 2010

SMP ANDALAN

SMP I Ponjong Andalan
Dulu kau berdiri sekukuh karang
Atau setegak tugu monas
Dengan puncaknya berkilau emas

SMP I Ponjong Andalan
Bertahun – tahun kau telah berjalan
Menapaki halang rintang
Meraih perjalanan gemilang

Kini kau telah tidak semangat untuk berjalan
Kau lelah dan ketiduran
Hilang semangat bersaing
Tak lagi terpatri mimpi – mimpi langit

Bangunlah – bangunlah SMP andalanku
Raihlah harapan cemerlang
Kepadamu siswa menambatkan cita dan cinta
Sebagai kesadaran generasi andalan masa depan

Oleh: Istikomah

Kaitkata: , ,

Bilingual di Spensa

Posted by: mahkom01 on: Februari 12, 2010

SMP Negeri 1 Ponjong merupakan sekolah ANDALAN yang berstatus Sekolah Standar Nasional ( SSN ) yang akan meningkat ke RSBI. Karena hal ini SMPN1 Ponjong mengadakan pembelajaran secara Bilingual (dua bahasa). Kendalanya pada setiap guru yang mengajar mata pelajaran tertentu harus menggunakan Bahasa Inggris. Keadaan seperti ini, sekolah mengadakan pelatihan bahasa inggris untuk guru. Kegiatan guru-guru sangatlah padat, pagi mengajar dan sepulang sekolah beliau mengadakan latihan dengan berbicara bahasa Inggris di SMPN 1Ponjong.

Disamping program Bilingual di SMP N 1 PONJONG juga banyak terdapat fasilitas yang mendukung seperti Laboratorium Bahasa, Laboratorium IPA, ruang ICT,TIK, dan pembangunan ruang multimedia. Keamanan di sekolah ini sangatlah ketat karena guru piket menjalankan tugasnya sesuai jadwal yang bertujuan untuk mengantisipasi jika ada mata pelajaran yang kosong dan untuk mengawasi murid-murid yang kurang disiplin. Kegiatan guru piket tidak hanya itu, yang lebih penting setiap hari guru piket mengkoordinir siswa kusus kelas Bilingual di tekankan untuk mengisi apel pagi,dengan mengungkapkan pikiran melalui lisan yaitu dengan menggunakan bahasa Inggris. Cara ini bertujuan untuk mendisiplinkan siswa hingga SMP N 1 PONJONG menuju RSBI.

Korupsi waktu

Posted by: mahkom01 on: Februari 12, 2010

Masyarakat saat ini baru membicarakan korupsi atau menggelapkan uang bank senturi . Di balik kejadian itu tidak pernah memperhatikan adanya korupsi waktu. Korupsi waktu memang tidak terasa dan seolah – olah tidak merasakan bahwa apa yang dilakukan itu termasuk korupsi. Korupsi waktu tidak hanya di sekolah – sekolah, di suatu lembaga, dan masyarakat yang berwiraswasta. Para petanipun tidak merasakan bahwa dirinya sering korupsi waktu.

cerpenku

Posted by: mahkom01 on: Desember 16, 2009

SEKUNTUM DOA UNTUK SUAMIKU
Oleh: Istikomah, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia)

Sore menjelang. Tengah siang baru saja bergulir, belum mencapai waktu ashar. Demi keluarga tercinta, usai menyantap menu makan siang sederhana hasil masakanku, hanya beristirahat sejenak, suamiku sudah bersiap menuju perempatan untuk mengojek. Sebagai editor free lance di sebuah percetakan, ia memang menambah penghasilan keluarga dengan menjadi pengojek, bukan semata demi uang, tetapi agar tak terlalu suntuk di depan huruf-huruf.
Ia tak malu, bahkan menikmati pekerjaan sampingannya. Alasan utamanya, bahwa agar ia juga bisa mendampingi para pengojek yang juga tetangga-tetangga kampung kami sehingga mereka tidak terjerumus pada perjudian, minuman keras, obat-obatan terlarang dan sebagainya. Semula tekatnya itu kutentang. Aku takut jika ia tidak bisa mempengaruhi mereka, malah merekalah yang mempengaruhinya. Tapi syukurlah, semakin lama, kendati ia masih relatif muda, ia dianggap tetua di komunitas ojek tersebut. Jika waktu ashar tiba, ia akan menjadi imam di surau dekat perempatan itu, dan dari semula tak banyak para pengojek itu yang melaksanakan sholat lima waktu, akhir-akhir ini semakin banyak pengojek itu menjadi makmumnya. Bangganya aku terhadapnya.
“Bu, Bapak pergi. Jaga anak-anak, ya!” pamit suamiku sambil lalu. Ia mengambil helm di atas rak buku dan meraih jaket yang tergantung di dinding.
“Waalaikumsalam!” Kujawab salamnya sambil memandang kepergiannya dengan heran. Tak biasanya ia bilang “jaga anak-anak”. Yang sering keluar, “jika Maghrib aku belum datang, ajak anak-anak makan duluan. Mereka kan harus belajar”, atau kalimat sejenisnya, sebab ia yakin aku seorang ibu yang akan selalu melindungi anak-anak, bukan saja dari bahaya, tetapi juga dari sikap tak baik.
Aku sama sekali tak menduga kalau pesan itu menjadi pesan terakhirnya. Pukul delapan pagi, esok harinya, atau pagi ini, teman-temannya sudah mengelilingi jasadnya yang terbujur kaku di ruang tamu sempit kami. Ada guratan kesedihan di wajah mereka. Beberapa di antaranya membuka kain penutup untuk mencium pipi suamiku.
Salah satu teman itu menghampiriku, “Bu, sabar dan tawakal, agar bapak diterima oleh Allah SWT,” nasihatnya.
“Insya Allah,” suaraku bergetar di antara guliran air mata.
“Bu, jangan menangis! Kata suami ibu, orang yang hidup ini pinjaman dari Allah, dan sekarang Allah mengambilnya kembali,” kata Yanto meyakinkan.
“Ibu sedih melihat anak-anak masih kecil,” kuusap air mata kesekian kali.
”Jangan khawatir, Bu! Pak Khudori, pemilik percetakan itu sudah menganggap Pak Muksin seperti saudaranya sendiri. Ibu tahu kan, jika ada apa-apa, Pak Khudori yang dermawan itu selalu mencari Pak Muksin. Masak beliau akan biarkan kedua anak yatimnya Pak Muksin akan kehilangan kesempatannya sekolah. Padahal keduanya pinter-pinter. Biar beliau usahakan agar anak-anak bisa sekolah sampai perguruan tinggi,” ujar Pak Yanto semakin menderaskan air mataku saking harunya. Alhamdulillah, aku bersyukur ada orang yang masih mau memperhatikan anak-anakku, batinku.
Sepuluh tahun yang lalu, aku menikah dengan Mas Muksin dan dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan. Mas Muksin pemuda idaman semua warga. Ia taat beragama dan giat bekerja. Aku gadis yang beruntung. Ia memilihku sebagai pendamping hidupnya. Setelah menikah, aku diajak pindah rumah dekat pekerjaannya. Suamiku bekerja di percetakan Pak Khudori yang sedang berkembang, hingga kini percetakan itu bahkan memiliki dua buah toko buku.
Di tempat kerjanya, suamiku tidak saja disenangi majikannya, tetapi juga teman-temanya. Ia bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan tidak banyak mengeluh. Ketika anak Pak Khudori masih kecil-kecil sampai mencapai remaja, suamikulah yang jadi ustadz mereka, dan di percetakan, ia sering diminta mengajar membaca Alquran, juga ibadah sehari-hari oleh teman-temannya. Begitulah, suamiku menjadi orang yang dituakan, baik di keluarga Pak Khudori, di kantor percetakan, di lingkungan tempat kami tinggal maupun di komunitas pengojek yang diakrabinya sejak tak lagi mengajar anak-anak Pak Khudori karena mereka sudah bisa saling mengajari di antara mereka sendiri.
Alhamdulillah, keperluan rumah tangga kami bisa dibilang lebih dari cukup. Aku memberi contoh hidup hemat dan suka menabung pada anak-anak. Kami hidup bahagia. Biasanya sepulang bekerja, suamiku langsung menemui anak kami, Sofyan dan Sofy, lalu keduanya berebutan mencium tangannya.
“Pak, Bapak cape kan? Sini Sofyan pijit!” kata Si Sulung sakit!” suamiku meringis. Rupanya putri kami yang baru berumur 4 tahun, Sofy, ikut-ikutan memijit. Tetapi baginya memijit itu mencubit. Sembari merapikan baju, aku tak mampu menahan tawa geli.
Begitulah suasana keakraban keluarga kami setiap hari usai suamiku pulang ngojeg atau di kala kebersamaan waktu libur. Setelah itu suamiku mencium anaknya satu per satu.
“Bapak berangkat dulu, ya? Doakan Bapak dapat rizki yang banyak! Agar nanti kalian bisa sekolah yang tinggi.” Anak-anak mengangguk lucu dan tertawa gembira. Yang paling lucu, Si Kecil minta gendong dulu sebelum bapaknya berangkat.
Tapi kemarin, sudah lewat tengah malam, tak biasanya suamiku belum pulang kecuali karena ada sesuatu yang harus ia lakukan untuk menolong teman atau urusan mendesak lainnya. “Ya Allah, lindungilah suamiku dari bahaya!” Hatiku tiba-tiba merasa cemas. Perasaanku semakin tak menentu. Kuambil air wudhlu dan kutumpahkan kekhawatiranku dalam sholat.
“Assalamualaikum! Bu Muksin, tolong buka pintu, Bu!”
Bergegas aku ke ruang depan. Sambil lalu, kulihat jam dinding, setengah dua lebih sepuluh menit. “Wa’alaikum salam. Ada apa, Pak RT?” tanyaku berdebar demi melihat dua orang polisi berdiri di samping Pak RT.
“Maaf, Bu, mengganggu sebentar. Bapak ini dari Polsek, ingin menyampaikan kabar tentang suami ibu,” kata Pak RT hati-hati.
Jantungku serasa copot. Aku tak bicara. Suaraku seolah tercekat.
“Bu, suami ibu mengalami kecelakaan di perempatan Jalan Sudirman. Sekarang ada di UGD Rumah Sakit Jombang. Kami harap ibu bisa ikut kami,” ujar polisi itu membenarkan kekhawatiranku.
“Bagaimana keadaannya?” kata itu terlontar tersendat.
“Yang tabah, ya, Bu! Mungkin ini jalan Sang Pencipta untuk menjemputnya,” ujar Pak RT hati-hati.
Sesaat, seolah sendi-sendi tulangku tercerabut dari akarnya. Sambil terduduk jongkok, aku masih ingat untuk berucap, ”Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun!” Kemudian membiarkanku terdiam menahan ledakan tangis yang hendak membobol tenggorokan. “Bagaimana dengan anak- anak, Pak RT?” tanyaku lemas, dan aku sedang dalam bimbingan Pak RT menuju kursi.
“Jangan khawatir, Bu. Biar Ninna dan Dara yang menjaga mereka”, Pak RT mencoba menenangkanku. “Sekarang Bu Muksin pergi dengan istri saya ke rumah sakit”.
Perjalanan ke rumah sakit yang jauh dan memakan waktu berjam-jam kurasakan benar-benar memompa jantungku. Kucoba untuk tetap tabah dan tidak berfikir macam-macam. Bu RT mengelus lenganku, mencoba menenangkan.
Ketika kulihat tubuh suamiku sudah ditutupi kain kafan, tangisku tak terbendung lagi. Kupeluk Bu RT dengan perasaan berkecamuk.
“Sudahlah, Bu. Allah telah memanggilnya. Relakan kepergiannya. Soal anak-anak, Insya Allah, akan berada dalam penjagaan Allah. Semuanya tidak lepas dari takdir-Nya,” Bu RT mengusap-usap punggungku.
Aku segera sadar dan menguasai diri. Kulepaskan pelukanku, kutatap jasad yang terbujur di hadapanku. Ah, kain putih itu penuh bercak darah. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Hanya hatiku terus berdzikir dan melantunkan do’a.
Kini suamiku telah dimakamkan dengan cara sederhana dan khidmat. Jenazahnya perlahan dimasukkan ke liang lahat. Suasana senyap seolah turut mengantar suamiku ke peristirahatannya terakhir. Tak ada isak tangis, hanya air mata mengalir deras. Aah…teramat cepat kepergian suamiku.
“Ya Allah, terimalah suamiku di sisi-Mu, ampunilah dosanya, lindungi kami yang ditinggalkannya. Untukmu suamiku, semoga engkau memperoleh kebahagiaan di alam sana.”
Begitulah, sekuntum doa itu terus saja kulantunkan di dekat makamnya, sekalipun para pengantar jenazah sudah meninggalkan pekuburan di kaki bukit ini. Ia meninggal dalam keadaan yang baik kukira, karena konon ia baru saja pulang dari menjenguk temannya di rumah sakit.
Sebuah mobil tetanggaku masih menantikan dan mengawasiku dari kejauhan. Tadi aku memang hampir pulang bersama mereka, tetapi tiba-tiba terbersit dalam pikirku untuk kembali menyanding gundukan tanah basah itu sendirian, sementara kedua anakku kutitipkan bersama mereka. Aku hanya ingin persembahkan sekuntum doa itu sendirian seolah ingin kurasakan percakapan terakhir antara aku dan suamiku tercinta. Barulah aku tergerak untuk beranjak ketika sebuah bunga kamboja luruh dan tepat mengenai kepalaku, seolah mengingatkanku bahwa sudah waktunya aku pulang, sebab sebagaimana bunga yang gugur itu, masih ada pucuk lain yang akan menumbuhkan bunga lainnya demi keindahan Sang Waktu, sebagaimana anak-anakku adalah tunas baru suamiku.
&&&

kiat-kiat menjadi istri pilihan

Posted by: mahkom01 on: Juni 23, 2009

Beberapa hal suami senang dengan istrinya :
1. seorang istri berdandan rapi dihadapan suaminya,2. Istri harus taat dan patuh pada suami yang sesuai dengan ajaran islam,3. Istri harus bisa menjaga harta milik suami, 4. Istri tidak boleh masukkan orang yang berbeda jenisnya apalagi orang yang tidak diharapkan atau orang yang tidak disukai suami.

lounching antologi cerpen

Posted by: mahkom01 on: Juni 11, 2009

SMP I Ponjong mengadakan ekstra sastra yang dibimbing oleh Esti Nuryani Kasam. Sekarang di SMP I Ponjong muncul penulis cerpen sekitar dua puluh tiga siswa, dua guru dan dapat menerbitkan antologi cerpen yang berjudul Mengejar SMP Impian</em. Antologi yang memuat 25-an cerpen tersebut akan dilaunching tanggal 20 Juni 2009. Ini merupakan bukti, bahwa siswa SMPN I Ponjong dapat berkarya. Terlebih lagi antologi tersebut telah terdaftar dalam katalogus perpustakaan Nasional.
Ada harapan ke depan, dengan terbitnya antologi akan disusul dengan karya siswa yang lain.

MURIDKU

Posted by: mahkom01 on: Mei 9, 2009

Guru dan murid. Dua kata yang selalu bersanding lekat dalam pendidikan. Guru tidak akan ada tanpa murid. Murid tidak berarti murid, tanpa adanya guru. Dua kata itu dalam ranah nyata sering bergantian. Ada guru yang kemurid-muridan. Ada murid yang keguru-guruan. Guru yang berperilaku ala murid, menunjukkan kejiwaan, kesiapan, dan kedewasaan yang belum matang. Perilakunya belum berarti”bisa digugu lan ditiru”. Artinya, guru yang belum pantas menjadi guru.
Sebabaliknya, tidak sedikit seorang murid yang memiliki jiwa yang matang. Kedewasaan dalam kehidupannya muncul tanpa direkayasa. Ini murid yang guru.
Apa lagi saat ini sering kita baca berita tantang kebejatan moral guru. Sangat memprihatinkan. Mereka beranggapan bahwa tugasnya cukup menttransfer ilmu kepada murid. Mereka tidak memperdukilakn akan akhlak murid-muridnya. Mengapa demikian? Karena mereka sendiri tidak memperdulikan nilai-nilai kehidupan.
Siapa guru yang pendidik?
Merekalah yang memiliki jiwa dan tanggung jawab untuk membentuk para muridnya bukan sekedar pinter, namun juga berakhlak. Mereka harus berani menjadi contoh dan teladan bagi murid-muridnya.
Berapa guru kita yang pendidik?
Rasanya sangat sedikit. Yang paling banyak adalah guru yang guru. Atau guru yang murid. Akibatnya, produk pendidikan kita belum menunjukkan kualitas manusia yang unggul.
Setuju?

puisi

Posted by: mahkom01 on: Mei 9, 2009

Warisan
Waris
Kau baik, harum, dan suci namamu
Kau menjadi idaman semua orang
Kau menjadi dambaan semua orang
Waris,
Kau pun sumber petaka
di tangan para pendusta
dan penghamba dunia.

Kau jalin jalin kasih cinta
kau pertautkan kasih yang renggang
Namun,
di tangannya kau pun
menjadi perenggang saudara
musuh menjadi petaka
hingga sirna-sirna.

Namamu tetap suci!

Fotoku

Posted by: mahkom01 on: April 22, 2009

img_38991


  • Tidak ada
  • mahkom01: buku masih ada, tapi ngirimnya belum sempat besuk saja kalau pulang
  • mahkom01: bukunya masih, tapi kalau ngirim belum bisa.
  • mahkom01: Terimakasih atas sarannya, semoga menjadi semangat untuk menulis di blog. Kumohon Bapak sering mampir kesini.

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.